Dalam praktik pertanian modern, bukan hanya kuantitas air yang berperan, tetapi juga kualitas air dan tanaman itu sendiri yang menjadi faktor penting dalam sistem pengairan. Air yang digunakan untuk irigasi harus memenuhi standar tertentu agar tidak merugikan pertumbuhan tanaman dan kesuburan tanah. Mengabaikan aspek ini dapat menyebabkan akumulasi garam, toksisitas, atau defisiensi nutrisi pada tanaman, yang pada akhirnya berdampak pada penurunan hasil panen. Di banyak wilayah, khususnya yang bergantung pada sumber air tanah atau air permukaan yang terkontaminasi, pemantauan kualitas air dan tanaman menjadi semakin krusial. Misalnya, di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, petani tambak yang beralih ke budidaya holtikultura sering menghadapi tantangan salinitas air, yang berdasarkan data dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) setempat per Maret 2025, menyebabkan penurunan produksi sayuran hingga 20% jika tidak diatasi.
Salah satu indikator utama kualitas air dan tanaman adalah salinitas, atau kadar garam terlarut. Air dengan kadar garam tinggi dapat menghambat penyerapan air oleh akar tanaman, menyebabkan “kekeringan fisiologis” meskipun tanah dalam kondisi basah. Toleransi tanaman terhadap salinitas bervariasi; padi, misalnya, lebih sensitif dibandingkan jagung atau kapas. Tingkat pH air juga penting, idealnya berkisar antara 6,0 hingga 7,5 untuk sebagian besar tanaman pertanian, karena pH yang ekstrem dapat memengaruhi ketersediaan nutrisi. Petugas laboratorium pengujian air dari Dinas Pertanian dan Pangan di Palembang, Sumatera Selatan, secara rutin melakukan analisis sampel air untuk petani setiap hari Senin dan Kamis, antara pukul 09:00 dan 14:00, memberikan rekomendasi berdasarkan hasil pengujian.
Keberadaan unsur hara esensial dan mikroelemen dalam air irigasi juga perlu diperhatikan. Meskipun air bukan sumber nutrisi utama, kandungan tertentu dapat melengkapi kebutuhan tanaman. Sebaliknya, kontaminasi logam berat atau zat kimia berbahaya dari limbah industri atau domestik dapat bersifat toksik bagi tanaman dan bahkan membahayakan konsumen. Oleh karena itu, pemeriksaan rutin terhadap sumber air sangat disarankan. Di daerah aliran sungai yang melintasi kawasan industri, seperti di Cikarang, Jawa Barat, tim dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) sering melakukan inspeksi mendadak setiap bulan, biasanya pada hari Selasa pagi, untuk memantau kualitas air dan tanaman yang dialiri.
Untuk mengatasi masalah kualitas air yang buruk, petani dapat menerapkan beberapa strategi. Penggunaan filter untuk menghilangkan partikel padat, sistem aerasi untuk meningkatkan oksigen terlarut, atau bahkan pengolahan air sederhana sebelum digunakan dapat membantu. Dalam beberapa kasus, pencampuran air dari berbagai sumber dengan kualitas berbeda juga bisa menjadi solusi. Dengan memberikan perhatian serius pada kualitas air dan tanaman dalam sistem pengairan, petani tidak hanya melindungi investasi mereka tetapi juga memastikan produksi pangan yang lebih sehat dan berkelanjutan bagi masyarakat.