Produksi minyak sawit tidak hanya menghasilkan CPO (Crude Palm Oil) sebagai produk utama, tetapi juga limbah dalam jumlah besar. Alih-alih membuang atau mencemarinya, kini ada pendekatan revolusioner dalam industri sawit, yaitu mengubah limbah sawit menjadi sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan. Inovasi ini tidak hanya menyelesaikan masalah limbah, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi yang signifikan dan mendukung keberlanjutan.
Pada hari Kamis, 12 Oktober 2023, sebuah pabrik kelapa sawit di Kabupaten Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, diresmikan. Pabrik ini tidak hanya fokus pada produksi minyak, tetapi juga pada pengolahan limbah cair atau POME (Palm Oil Mill Effluent) menjadi biogas. Bapak Wahyu, seorang perwakilan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang hadir dalam acara tersebut, menyatakan, “Ini adalah langkah konkret dalam mengubah limbah sawit menjadi energi hijau. Keberhasilan pabrik ini menjadi inspirasi bagi industri lain.”
Limbah cair POME, yang selama ini menjadi masalah utama karena potensi pencemarannya, ternyata memiliki kandungan bahan organik tinggi yang sangat cocok untuk diolah menjadi biogas melalui proses fermentasi anaerobik. Dalam reaktor khusus, mikroorganisme akan bekerja memecah bahan organik dalam POME dan menghasilkan gas metana (CH4). Gas inilah yang dikenal sebagai biogas. Biogas ini kemudian dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk menggerakkan mesin generator, menghasilkan listrik yang dapat digunakan untuk operasional pabrik atau dijual ke jaringan listrik nasional. Laporan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada bulan November 2024 menunjukkan bahwa satu ton CPO dapat menghasilkan POME yang cukup untuk menghasilkan listrik hingga 50 kWh.
Selain limbah cair, tandan kosong kelapa sawit (TKKS) juga dapat diolah menjadi energi terbarukan. TKKS dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar padat atau biomassa. TKKS yang telah dicacah dan dikeringkan bisa dibakar dalam boiler untuk menghasilkan uap panas yang kemudian digunakan untuk memutar turbin pembangkit listrik. Dengan demikian, industri sawit dapat menjadi mandiri energi, bahkan berlebih. Upaya mengubah limbah sawit ini juga sejalan dengan komitmen pemerintah Indonesia dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dan mencapai target energi baru terbarukan.
Dalam sebuah seminar yang diadakan di Jakarta pada tanggal 22 Agustus 2025, seorang pakar lingkungan dari Universitas Indonesia, Dr. Rina Agustina, menekankan bahwa mengubah limbah sawit menjadi energi bukan sekadar tren, melainkan sebuah kebutuhan. “Ini adalah solusi win-win solution,” katanya. “Kita mengatasi masalah lingkungan, mengurangi ketergantungan pada energi fosil, dan menciptakan nilai ekonomi baru.” Dengan demikian, industri sawit tidak lagi hanya menjadi produsen minyak, tetapi juga kontributor penting dalam transisi menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.