Keamanan lahan di wilayah perbukitan sering kali menjadi kekhawatiran utama bagi para pemilik perkebunan, terutama saat memasuki musim penghujan dengan intensitas tinggi. Ancaman erosi dan pergerakan tanah dapat melenyapkan hasil kerja keras selama bertahun-tahun hanya dalam hitungan menit. Menanggapi tantangan geografis ini, sebuah gerakan kolektif yang menamakan dirinya Lawan Longsor! gencar melakukan sosialisasi mengenai pentingnya manajemen lahan miring yang benar. Mereka mengajak para pekebun untuk kembali ke kearifan lokal yang telah ditingkatkan dengan standar teknik sipil pertanian modern guna meminimalisir risiko bencana alam.
Langkah konkret yang diambil oleh Forum Perkebunan ini adalah dengan mengedukasi para anggotanya untuk tidak menanam tanaman secara lurus mengikuti kemiringan lereng. Praktik lama tersebut sering kali menciptakan jalur aliran air yang cepat, yang justru mempercepat pengikisan lapisan tanah subur (top soil). Sebagai gantinya, mereka diwajibkan untuk terapkan sistem terasering atau sengkedan. Terasering adalah teknik mengubah kemiringan lahan menjadi rangkaian anak tangga yang berfungsi untuk memecah energi kinetik air hujan. Dengan adanya undakan-undakan ini, air tidak lagi mengalir deras ke bawah, melainkan tertahan sejenak pada setiap tingkatan, sehingga memiliki waktu untuk meresap ke dalam tanah secara perlahan.
Implementasi sistem ini membutuhkan perencanaan yang matang, termasuk perhitungan sudut kemiringan lereng dan pemilihan jenis tanaman penguat. Di setiap bibir teras, para petani disarankan menanam rumput vetiver atau tanaman perdu berakar kuat yang mampu mengikat agregat tanah dengan sangat baik. Sistem terasering yang dikelola dengan baik tidak hanya berfungsi sebagai penahan erosi, tetapi juga memudahkan akses petani dalam melakukan perawatan tanaman di lahan miring. Pekerjaan pemupukan, pemangkasan, hingga pemanenan menjadi lebih aman dan efisien karena petani memiliki pijakan datar yang stabil di setiap tingkatan lahan.
Selain aspek keamanan, Forum Perkebunan juga menekankan bahwa metode ini mampu meningkatkan kesuburan lahan secara signifikan. Karena air hujan tidak langsung hilang membawa nutrisi ke lembah, pupuk yang diberikan petani dapat terserap maksimal oleh tanaman. Hal ini berdampak pada produktivitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan lahan miring yang dibiarkan tanpa rekayasa teknis. Pengelolaan air juga menjadi lebih terkontrol; kelebihan air dapat diarahkan melalui saluran drainase yang rapi menuju kolam-kolam penampungan atau embung di bagian bawah, yang nantinya bisa digunakan untuk penyiraman saat musim kemarau.