Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian Ramah Lingkungan

Lahan gambut, dengan karakteristiknya yang unik dan kompleks, sering kali dianggap sebagai tantangan dalam dunia pertanian. Namun, dengan pendekatan yang tepat, lahan ini memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai area pertanian yang tidak hanya produktif, tetapi juga ramah lingkungan. Pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian berkelanjutan memerlukan pemahaman mendalam tentang ekosistemnya, serta penerapan praktik-praktik yang meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan manfaatnya.

Salah satu tantangan utama dalam mengelola lahan gambut adalah sifatnya yang mudah terbakar, terutama saat kering. Kebakaran lahan gambut melepaskan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer, berkontribusi signifikan terhadap perubahan iklim dan menghasilkan kabut asap yang berbahaya. Oleh karena itu, kunci dari pemanfaatan lahan gambut yang ramah lingkungan adalah menjaga kelembapannya. Salah satu cara yang efektif adalah dengan teknik rewetting atau pembasahan kembali. Ini bisa dilakukan dengan membangun sekat kanal, sumur bor, atau bendungan kecil untuk menahan air di permukaan dan mencegah gambut mengering.

Di Desa Sungai Rengas, Kecamatan Mekar Jaya, pada tanggal 12 Agustus 2025, Dinas Pertanian setempat meluncurkan program percontohan yang menunjukkan bagaimana lahan gambut dapat diubah menjadi lahan produktif tanpa merusak ekosistem. Dalam program ini, petani diajarkan metode budidaya yang tidak memerlukan pengeringan lahan secara total. Tanaman yang cocok ditanam di lahan gambut yang basah, seperti sagu, nanas, dan beberapa jenis sayuran rawa, menjadi fokus utama. Sagu, misalnya, adalah tanaman yang sangat adaptif dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Selain itu, budidaya ikan di parit-parit kecil di antara area tanam juga menjadi praktik yang menambah pendapatan petani dan menjaga kelembaban tanah.

Menurut Kepala Dinas Pertanian, Bapak Herman Susanto, “Pendekatan ini bukan hanya tentang meningkatkan hasil panen, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan alam. Kita tidak bisa memaksa lahan gambut menjadi lahan kering layaknya di daerah lain. Kita harus bekerja sama dengan alam, bukan melawannya.” Pernyataan ini disampaikannya dalam sebuah diskusi kelompok terfokus yang dihadiri oleh sekitar 50 petani dari berbagai desa di wilayah tersebut pada hari Kamis lalu. Diskusi ini juga menyoroti pentingnya peran aparat desa dan Babinsa dalam mengedukasi masyarakat tentang bahaya pembukaan lahan dengan cara dibakar.

Pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian ramah lingkungan juga melibatkan penggunaan pupuk organik dan teknik penanaman tanpa olah tanah (no-tillage) untuk menghindari kerusakan struktur tanah. Pupuk organik, seperti kompos dari limbah pertanian atau kotoran hewan, dapat memperbaiki kesuburan tanah gambut yang umumnya miskin hara. Sementara itu, teknik no-tillage membantu menjaga lapisan atas gambut tetap utuh, mengurangi pelepasan karbon, dan mencegah erosi.

Sebagai contoh nyata, kelompok tani “Maju Bersama” di Desa Mekar Jaya berhasil panen nanas dengan hasil memuaskan pada awal September 2025. Panen ini menjadi bukti bahwa dengan manajemen air yang tepat dan pemilihan komoditas yang sesuai, lahan gambut dapat memberikan hasil yang melimpah. Keberhasilan ini juga menarik perhatian sejumlah peneliti dari perguruan tinggi lokal yang datang ke lokasi untuk melakukan studi lebih lanjut. Mereka tertarik untuk mendokumentasikan praktik-praktik terbaik yang telah diterapkan oleh para petani. Pada saat kunjungan, salah satu peneliti, Dr. Rina Kusuma, menyebutkan bahwa model pertanian yang diterapkan di sini dapat menjadi model nasional untuk pemanfaatan lahan gambut yang berkelanjutan.

Dengan demikian, lahan gambut bukanlah lahan yang tidak berguna, melainkan aset berharga yang memerlukan perlakuan khusus. Melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat, potensi lahan gambut dapat dimaksimalkan untuk menopang ketahanan pangan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.