Sektor pertanian Indonesia dihadapkan pada tantangan besar, salah satunya adalah pemanfaatan lahan kering yang optimal untuk menopang ketahanan pangan nasional. Solusi inovatif telah hadir melalui penerapan Pertanian Presisi, khususnya pada budidaya padi varietas unggul. Implementasi Pertanian Presisi menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi sumber daya di lahan yang secara historis dianggap marjinal. Pendekatan ini mengubah praktik bertani tradisional dari serba seragam (one-size-fits-all) menjadi manajemen lokasi spesifik (Site Specific Crop Management/SSCM).
Di Desa Sidomulyo, Kecamatan Kalibaru, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, sebuah kelompok tani bernama “Sumber Rejeki” yang beranggotakan 45 petani, telah menjadi pionir dalam praktik ini. Sejak musim tanam kedua tahun 2024, mereka secara resmi mengadopsi teknologi Pertanian Presisi untuk membudidayakan Padi Gogo Varietas Inpago 9, yang dikenal memiliki potensi hasil tinggi (rata-rata 8,4 ton/hektar GKG) dan agak tahan terhadap hama penyakit seperti Wereng Batang Coklat biotipe 1 dan penyakit Blas. Lahan kering seluas total 25 hektar yang mereka kelola kini dipetakan secara rinci menggunakan citra satelit dan drone multispektral.
Tahap awal Implementasi Pertanian Presisi dimulai dengan analisis data. Pada tanggal 15 Mei 2024, tim teknis dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur bersama dengan petani melakukan pemetaan keragaman tanah, termasuk kadar hara, pH, dan kelembaban tanah di setiap petak. Data ini diolah menjadi peta rekomendasi digital. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan bahwa beberapa area mengalami defisit unsur hara nitrogen yang signifikan, sementara area lainnya memiliki kelembaban tanah di bawah ambang batas yang diperlukan untuk pertumbuhan vegetatif Padi Gogo.
Tindak lanjut dari data presisi ini sangat krusial. Alih-alih memberikan dosis pupuk yang sama di seluruh lahan seperti praktik konvensional, kelompok tani Sumber Rejeki menerapkan pemupukan berjenjang dengan dosis yang disesuaikan per petak. Untuk area yang teridentifikasi kekurangan nitrogen parah, pupuk urea diberikan hingga 30% lebih banyak dari dosis standar, sementara di area lain dosisnya dikurangi, menghasilkan penghematan input pupuk rata-rata 15% secara keseluruhan. Selain itu, untuk mengatasi masalah kekeringan lokal, mereka memasang sensor kelembaban tanah nirkabel yang terhubung ke sistem irigasi tetes sederhana bertenaga surya. Sensor ini memberikan peringatan dini kepada mandor lapangan, Bapak Sutarman (55 tahun), melalui aplikasi seluler pada pukul 08.00 WIB setiap pagi jika kelembaban turun di bawah 60%, memungkinkan pemberian air yang tepat waktu dan volume yang efisien.
Hasil panen yang dicapai pada akhir musim tanam, tepatnya pada hari Sabtu, 28 September 2024, menunjukkan peningkatan rata-rata hasil Gabah Kering Giling (GKG) sebesar 22% dibandingkan musim tanam sebelumnya tanpa penerapan teknologi presisi. Produktivitas rata-rata lahan kini mencapai 6,5 ton/hektar GKG, jauh melampaui rata-rata hasil padi gogo di lahan kering konvensional. Keberhasilan Implementasi Pertanian cerdas ini tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga memastikan keberlanjutan lingkungan melalui penggunaan air dan pupuk yang lebih efisien dan terukur. Kisah sukses di Banyuwangi ini menjadi model bagi percepatan adopsi teknologi Pertanian Presisi di seluruh lahan kering Indonesia.